Wednesday, June 14, 2006

Cuaca


Pertama kali datang ke kota di bagian utara Jerman ini, aku betul-betul merasa dingin. Karena meskipun musim panas sudah datang, tetapi angin dingin masih bertiup dari laut sehingga suhu masih sekitar 16 derajat Celsius. Sama dengan suhu Lembang sore hari. Malam hari bisa lebih dingin lagi. Dengan persiapan pakaian yang seadanya untuk musim panas, maka aku sama sekali tidak membawa pakaian yang cukup hangat untuk menghadapi musim panas tapi dingin ini. Pengalaman tinggal di negara belahan bumi selatan juga tidak mencukupi untuk menghadapi cuaca di sini.

Oleh karena itu begitu angin dingin berhenti bertiup dan awan mulai menghilang aku sangat senang. Aku ikut gembira menyambut musim panas di negara orang seperti orang setempat. Cuaca mulai hangat sejak dua minggu lalu dan semakin panas hingga mencapai 31.8 derajat Celsius kemarin. Suhu yang sama dengan suhu Jakarta. Yang berbeda hanyalah di sini tidak ada awan yang menghalangi cahaya matahari yang sangat menyilaukan. Untuk orang daerah tropis seperti saya, sinar matahari itu sangat menyakitkan dan menyebabkan sakit kepala ringan. Sunstroke bahasa kerennya.

Selama cuaca cerah, kita bisa melihat penduduk kota berkeliaran dari pagi hingga malam. Barbeque, bersepeda ria, berjemur. Sore hari bis akan dipenuhi oleh bule2 berpakaian tropis dengan kulit kemerahan terbakar matahari. Selama cuaca cerah, perjalanan dengan bis merupakan satu2nya cara bagiku untuk bepergian karena aku benar2 tidak bisa menahan panasnya matahari. Di saat seperti itu, bis terasa seperti oven yang memanggang. Hampir tidak percaya rasanya bahwa hanya dua minggu sebelumnya aku masih mengeluh mengenai dinginnya musim panas di sini.

Cuaca cerah yang berlangsung selama dua minggu mengganti keluhanku menjadi panasnya udara dan silaunya matahari senja yang menyinari kamarku yang menghadap ke Barat. Saat musim panas seperti ini, aku harus bisa menahan silaunya matahari senja dari sejak pukul 6 sore hingga pukul 9 malam. Biasanya, aku berusaha untuk pulang beberapa menit sebelum pukul 8 malam supaya aku tidak perlu menahannya terlalu lama. Tapi itu pun tetap menyiksa. Jadi yang bisa kulakukan hanyalah menarik gorden kamarku dan menunggu maghrib datang pukul 9.30 malam. Hal ini kulakukan selama hampir dua minggu, hingga hari ini.

Hari ini aku dibangunkan oleh kicauan burung seperti biasa. Yang tidak biasa adalah udara sejuk pagi hari yang menyapaku. Sewaktu kubukan jendela, terlihat awan berarak di langit menutupi cahaya matahari. Aku langsung bersyukur bahwa hari ini tidak akan seterik hari2 sebelumnya. Tapi saat itu juga aku menyadari bahwa yang namanya manusia memang tidak pernah puas. Diberi dingin ingin panas, diberi panas ingin sejuk. Seperti lingkaran yang tidak ada habisnya. Tapi what can I say, namanya juga manusia :D


Kiel, 14 Juni 2006

1 Comments:

At 6/14/2006 9:34 PM, Blogger marpuah said...

hallo, salam kenal....

betul juga sih kata anda. tapi kalau kita juga tidak pernah puas dengan apa yang diberikan oleh Yang Maha Kuasa, apa itu bukan berarti kita tidak bersyukur?

 

Post a Comment

<< Home