Saturday, March 20, 2010

Bitch

Just one word.... Bitches.... Can't wait to say: you, You are not my friend anymore.

Friday, March 19, 2010

Feel like Sheldon

Sheldon Cooper is my favorite character from The Big Bang Theory as he embodies the nerdiest attitude of geeks. I particularly love the episode when he decided that Raj shouldn't become his friend anymore as Sheldon wanted to befriend another promising scientist. I laughed when I watched it, with a tinge of pity for Sheldon whose friends were actually waved and called: 'me, me', when he was still choosing. Raj was happy that he was chosen because he couldn't stand Sheldon's antics sometimes. But the actions of his friends didn't bother Sheldon at all.

I am now being treated like Sheldon. People around me now can't stand me. I feel alone. At this time, I wish I am brave enough to do what Sheldon did and do not bother about the consequences.

Labels:

Saturday, April 05, 2008

Ayah

Tepuk tangan ramai bersahutan ketika nama ayahku dipanggil. Setelah menerima raporku, Pak Mustar mempersilakan ayahku menempati kursi nomor lima yang kosong, dan tepuk tangan kembali membahana waktu namanya kembali dipanggil untuk mengambil rapor Arai. Tidaklah terlalu buruk, seorang tukang sekop di wasrai dipanggil dua kali oleh Kepala SMA Negeri Bukan Main. Kulihat senyum menawan ayahku dan aku tahu, saat itu adalah momen terbaik dalam hidupnya.


Selesai menerima rapor, ayahku keluar dari aula dengan tenang dan dapat kutangkap keharuan sekaligus kebanggan yang sangat besar dalam dirinya. Beliau menemui kami, tapi tetap diam. Dan inilah momen yang paling kutunggu. Momen ini hanya sekilas, yaitu ketika beliau bergantian menatap kami dan dengan jelas menyiratkan bahwa kami adalah pahlawan baginya. Dan kami ingin, ingin sekali dengan penuh hati, menjadi pahlawan bagi beliau. Lalu ayahku tersenyum bangga, hanya tersenyum, tak ada sepatah pun kata. Senyumnya itu seperti ucapan terima kasih yang diucapkan melalui senyum.


(Sang Pemimpi, Andrea Hirata: Bentang, 2006)



Cuplikan di atas diambil dari Mozaik 8 buku Sang Pemimpi yang merupakan buku kedua Tetralogi Laskar Pelangi-nya Andrea Hirata. Andrea Hirata berhasil menggambarkan dengan lugas kebanggan seorang ayah terhadap anaknya. Kebanggan sang ayah yang pendiam tergambar dari persiapan sang ayah untuk mengambil rapor anaknya yang termasuk dalam 10 besar SMA Negeri Bukan Main. Sebuah balasan manis dari sang anak dan keponakan atas perjuangan lelaki sederhana itu dalam menyekolahkan mereka.

Membaca mozaik ini, air mata tidak tertahan tertumpah. Terpikir kapan terakhir kali diri ini membuat mendiang ayah bangga. Bahkan terpikir apakah aku pernah membuat beliau bangga di akhir masa hidup beliau. Jika Ikal bisa melihat kebanggaan sang ayah dari senyum dan persiapannya, aku bukan seorang anak yang cukup peka untuk bisa melihat hal2 subtil seperti itu. Mendiang ayah yang juga pendiam membuat kesalah pahaman semakin mendalam.

Jika Ikal melihat kebanggaan sayang ayah pada saat pembagian rapor, maka aku baru bisa memahami kebanggaan mendiang ayah sewaktu tidak sengaja mendengar percakapan beliau dengan rekan kerjanya. Di situ dengan bangga beliau menceritakan prestasi akademikku yang tidak seberapa. Tapi itu kejadian yang sudah lama sekali. Sejak itu, prestasi akademikku terus turun. Aku tidak tahu apakah beliau masih bangga terhadapku atau tidak.

Ayahku jarang memberi komentar jika aku bercerita mengenai pengalamanku di sekolah yang merupakan ritual kami setiapa hari. Aku juga tidak pernah berpikir lebih jauh mengenai apa2 yang kuceritakan kepada ayah. Hingga suatu hari aku bercerita mengenai guruku yang mogok mengajar kelas. Aku menceritakannya dengan senang karena merasa akan mempunyai lebih banyak waktu bebas. Tapi mogok mengajar itu hanya berlangsung seminggu. Petang hari setelah sang guru kembali mengajar, ayah bertanya apakah pelajaran sudah berjalan lagi. Dengan polos aku mengiyakan. Setelah itu baru aku tahu bahwa ayah mengunjungi kepala sekolah dan menceritakan permasalahan itu kepada beliau. Saat itu aku baru menyadari bahwa ayah bukan hanya sesosok laki2 yang setiap sore diam mendengarkan celoteh putra-putrinya, tapi beliau ternyata seorang problem solver.

Sayangnya kenangan itu tertutup oleh kesibukan sehari2 sehingga yang terlihat olehku adalah sosok pensiunan yang gemar bermalas2an di depan televisi, bukan sosok yang menghabiskan masa mudanya membanting tulang menjadi kuli untuk membiayai pendidikannya sendiri. Sosok pensiunan yang menghabiskan waktunya dengan meminta tolong pamanku untuk mengantar beliau belanja bulanan, bukan sosok laki2 yang mengajari paman2ku cara menyetir mobil. Banyak lagi sisi positif ayah yang tidak terlihat olehku karena aku melihatnya dengan filter yang menyaring semua yang baik sehingga gambaran yang kulihat hanyalah sisi yang kuanggap buruk. Padahal, setiap tindakan yang beliau lakukan selalu mempunyai dasar. Dan aku tidak pernah berusaha untuk memahami alasan beliau melakukan berbagai hal bagiku terlihat aneh, buang2 waktu dan uang.

Sisi baik ayah terlihat kembali setelah membaca Mozaik 8. Filter yang selama ini kupakai untuk melihat beliau, dan masih terus kupasang bahkan setelah beliau berpulang ke Rahmatullah, tanggal sudah. Sosok pekerja keras, penolong sesama, problem solver, pemberi nasehat dan penopang keluarga sekarang terlihat jelas. Dan yang tertinggal adalah air mata yang akan selalu menitik setiap aku mengingat beliau. Waktu memang tidak bisa diputar kembali, tapi seandainya ada kesempatan untuk mengulang satu saja peristiwa dalam hidupku, maka aku akan memohon untuk diberi kesempatan untuk memohon ampun kepada beliau sebelum kepergian beliau.


musim semi, mengenang hampir 3 tahun kepergian ayah tercinta

Friday, December 21, 2007

Waktu

Tidak terasa sudah hampir 2 tahun aku meninggalkan kotaku tercinta. Begitu banyak yang terjadi di masa itu, tapi apakah banyak juga yang sudah kupelajari? Entahlah. Tiba2 aku jadi ingat kata2 dari lirik nasyid:

Demi masa, sesungguhnya manusia kerugian

dannn.... seperti biasa, kepanikan melanda karena baru menyadari banyaknya kesia2an yang kulakukan. sampai kapan kepanikan ini akan bertahan? entahlah....


Ngantuk...........

Wednesday, October 31, 2007

Suara

Selama hidup kita, kita mendengar berbagai jenis suara. Mulai dari suara alam seperti kicau burung, suara percakapan manusia, hingga suara2 mesin. Seluruh suara itu tanpa terasa mengisi hari2 kita.

Meskipun aku dibesarkan di perkotaan, tapi kakek memelihara berbagai jenis unggas di kebun rumah kami yang cukup luas. Mulai dari ayam, bebek, merpati hingga berbagai burung bersuara merdu. Oleh karena itu aku tumbuh dengan mendengar kokok ayam saat fajar dan kicauan burung di pagi hari.

Saat beranjak dewasa, aku memilih kuliah di kampus yang berdekatan dengan kebun binatang. Setiap kuliah pagi, aku bisa mendengar suara2 hewan yang ribut minta sarapan mereka. Saat itu, hari2ku diisi dengan suara manusia, hewan dan kendaraan bermotor.

Setelah lulus, aku beruntung bekerja di kantor yang cukup rindang. Cukup banyak burung2 yang sering menyambangi pohon2 di kantorku sehingga aku bisa mendengar kicauan mereka. Selain suara burung, aku juga bisa mendengar teriakan2 pemain bola yang sedang berlatih di lapangan dekat kantor. Pada malam hari, biasanya aku bisa mendengarkan geraman maupun gonggongan anjing tetangga yang diselingi dengan suara berisik motor dan kendaraan lain yang lewat di depan rumah.

Semua suara itu tanpa terasa sudah menjadi bagian dari hidupku. Dan aku menganggap sudah sewajarnyalah suara2 itu ada di sekitarku, meskipun kalau aku boleh memilih, ingin rasanya menyumbat knalpot mobil dan motor yang bunyinya memekakkan telinga.

Hari ini, baru aku sadari bahwa setiap daerah mempunyai kekhasannya sendiri, bahkan dalam masalah suara. Di tempatku merantau sekarang, aku beruntung mendapatkan tempat tinggal di daerah pinggiran yang cukup tenang. Suara yang biasa kudengar di daerah ini hanyalah suara kicauan burung dan kendaraan bermotor, dan suara anak kecil saat akhir pekan.

Hari ini aku baru sadar kalau aku hampir tidak pernah mendengar anjing menggonggong atau pun melolong meskipun banyak sekali orang di sekitar sini yang memiliki anjing. Apalagi suara kokok ayam, aku tidak pernah mendengarnya sama sekali. Baru sekarang aku merasa ada sesuatu yang hilang. Aku memang menyukai ketenangan daerah ini. Tapi rasanya akan sangat menyenangkan kalau bisa sesekali mendengar suara kokok ayam lagi.


menjelang hujan bulan November

Wednesday, August 08, 2007

kembali ke titik nol

rasanya udah capek bolak-balik mikirin n ngomongin ujang. so, sekarang saya akan kembali ke titik nol dan menapaki jalan yang berbeda.

ngantuk......

Saturday, July 14, 2007

bola 11 dan 9

ada pepatah yang paling terkenal di negeri tercinta: keledai tidak akan terjatuh untuk kedua kalinya di lubang yang sama.

well, sepertinya aku lebih parah dari keledai. kenapa? karena aku nyaris melakukan kesalahan yang sama seperti waktu masih muda.

dulu, waktu kuliah, ada kakak kelas yang pendekatan ke teman sekelasku dengan cara tidak langsung. kalau menurut istilah seorang kawan, ibaratnya si kakak kelas main bilyar dan berusaha menembak bola 11 secara tidak langsung dengan mengenai bola 9 dulu. yang jadi permasalahan sekarang adalah si bola 9 ini juga manusia (bukannya cuma rocker aja yang manusia) berjenis kelamin perempuan yang masih culun dan lagi beger2nya. kebayang dong ge-er nya si bola 9 ini didekati sama si kakak kelas. pake dikasih bunga (rumput). udah gitu kalo ngumpul2, kakak kelas ini suka nyanyi pake gitar sambil menatap saya. siapa yang ga ge-er.

eniwei, seiring dengan berjalannya waktu, ketahuan lah bahwa si kakak kelas ini ternyata maunya nembak temanku sendiri. patah hati lah daku. pengalaman ini menjadi pelajaran pahit buat saya dalam perjalanan berikutnya.

sayangnya, setelah sekian lama, pengalaman itu sedikit terlupa. baru teringat lagi beberapa hari yang lalu sewaktu melihat si ujang dengan seorang rekan. ujangnya sih ga papa, tapi kenapa rekan yang manis ini jadi salah tingkah waktu kepergok berduaan dengan ujang?

pencerahan datang dengan tiba2 dan skenario lama bola 9 dan bola 11 langsung melintas. mungkin akan ada yang berpikir bahwa saya kemudian akan merasa sedih? salah sekali. karena reaksi saya yang pertama adalah merasa bersalah menghalangi perjalanan bola 11 alias si eneng manis. akhirnya sepanjang sore itu, saya hanya bisa meminta maaf kepada si ujang dan eneng manis itu di dalam hati. maafkan kebodohan saya yang ke ge-er an. maafkan saya yang bertingkah seenaknya. maafkan saya yang membuat eneng jadi salting. maafkan, maafkan, maafkan.....

setelah minta maaf dalam hati, perasaan sudah cukup lega. tapi jujur saja, hati belum siap untuk 'konfrontasi' berikutnya. well, siap ga siap harus siap, tadi siang dihadapkan dengan mereka berdua lagi yang bersiap2 untuk makan siang bareng. sekali lagi si eneng manis menunjukkan ke-salting-annya. bikin aku tambah heran. kenapa juga harus salting ma saya? aneh. kalaupun dia tahu saya suka ma si ujang, kenapa dia yang harus salting? tambah bingung. kalau aku di posisi dia sih, aku ga bakalan salting.

paling tidak, aku segera sadar mengenai fungsiku sebagai bola 9 sebelum berlarut2. jelas dong saya menolak jadi bola 9 lagi. so, aku kembali ga pedulian ma si ujang. dan seperti biasa, si ujang lah yang mulai selalu menjelaskan semua sikapnya sekarang ke saya. who cares? i'm beyond caring now, jang.



akhir minggu yang cerah.