Wednesday, November 01, 2006

Daun anggur liar

Saat pertama membuat tema blog ini, aku masih berada di tanah tumpah darah, dimana daun selalu hijau sepanjang tahun. Ibu Pertiwi yang begitu cantik yang membuatku lupa bahwa di bagian lain dunia ini daun tidak selalu hijau sepanjang tahun, meskipun birunya langit bisa lebih cantik dari langit di atas tanah tercinta. Saat ini, daun anggur yang merambat di dinding mulai memerah sebelum akhirnya gugur ke tanah.

Aku teringat pembicaraan dengan seorang sahabat, betapa di setiap kesulitan dia selalu diberi jalan keluar oleh Sang Maha Pencipta melalui tanda2 yang terlihat di sekelilingnya. Karena, bukankan manusia memang diperintahkan untuk memperhatikan tanda2 di sekitarnya?

Sekarang, saat melihat daun anggur liar yang berubah warna sebelum gugur, sebuah pikiran terbetik dalam diriku: jika tiba saatnya, bisakah aku turun dengan ikhlas untuk memberi kesempatan kepada generasi berikutnya? Kalau sehelai daun dengan rendah hati menuruti kehendak Ilahi untuk gugur ke bumi dan menyerahkan tempatnya kepada daun2 baru, mengapa manusia—yang dengan berani menyatakan diri bersedia menjadi Khalifah di Bumi—mengalami kesulitan untuk menjalankan apa yang sudah menjadi suratan alam?

0 Comments:

Post a Comment

<< Home